Ini dia 3 Opsi Peruntukan Bandara Pulau Bunyu di Bulungan

| 983 Views
id Ini dia 3 Opsi Peruntukan Bandara Pulau Bunyu di Bulungan
Ini dia 3 Opsi Peruntukan Bandara Pulau Bunyu di Bulungan

Newstara.com TARAKAN - Bandara Bunyu yang berada di pulau Bunyu Kabupaten Nunukan yang memiliki panjang runway sekitar 1.000 meter dengan lebar sekitar 30 meter. Dan menjadi salah satu aset negara yang dikelola oleh SKK Migas serta PT Pertamina (Persero). Namun, aset senilai ratusan miliar itu kabarnya akan kembali dibuka dan dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat dan pertahanan udara perbatasan bagi personil TNI. Bahkan, beberapa kali tim yang terdiri dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) Kementerian Perhubungan dan TNI melakukan survey untuk memeriksa aset yang sebelumnya tertidur selama puluhan tahun.

Bandara Bunyu yang letaknya disebuah pulau Bunyu seluas 198,32 km persegi itu dipisahkan dengan air laut dan sebenarnya posisinya lebih dekat dengan Kota Tarakan yakni sekitar 10 kilometer (Km) atau 1 jam melalui transportasi laut (Speadboat). Sementara, Pulau Bunyu yang merupakan wilayah dari Kabupaten Bulungan justru lebih jauh dengan pusat kota di Tanjung Selor yakni dengan jarak tempuh sekitar 60 km atau sekitar 2,5 jam melalui transportasi laut (speadboat).

Sehingga dengan posisi tersebut maka Bandara Pulau Bunyu yang dibangun tahun 1985 dan berhenti beroperasi pada tahun 1998 itu dianggap cukup strategis untuk dioperasikan kembali dengan status Bandara komersil, The Flying school (sekolah penerbangan) atau home base pangkalan TNI AU. Namun, predikat bandara kecil pulau Bunyu hanya mampu di darati oleh pesawat jenis Dash 7, Transal, Cassa atau pesawat kecil lainnya.

"Kita belum tahu status Bandara Pulau Bunyu ini akan dijadikan apa nanti, karena ini masih dalam tahapan survey saya dibawa oleh Danlanud dan telah merujuk pada surat Pak Gubernur Irianto dan Menkumham," tutur Kepala Bandara Juwata Tarakan, Syamsul Banri kepada Newstara.com pada Jumat pagi, (27/05/2016) di Tarakan.

Dan dari hasil pengamatan sementara bahwa Bandara yang berada di pulau penghasil Methanol dan minyak mentah itu akan dioperasikan kembali, setelah sebelumnya dilakukan perbaikan dan pembangunan penambahan fasilitas pendukung. Seperti pembangunan penambahan runway atau landasan pacu hingga mencapai 1.200 meter, perbaikan bangunan terminal, perbaikan akses jalan, hingga penambahan alat-alat lainnya.

"Saya kira Bandara Bunyu masih layak dan bisa dioptimalkan dan dioperasikan karena kondisinya terlihat masih bagus, hanya sisi terminal dan fasilitas bangunan serta pendukung lainnya masih harus diperbaiki dan saya kira tidak sampai ratusan miliar perbaikannya," tuturnya.

Sementara, untuk pembiayaan pembangunan kembali Bandara Pulau Bunyu itu maka akan disesuaikan hasil evaluasi dan pembahasan siapa yang akan mengelolanya. Seperti, jika dikelola TNI AU maka pembiayaan menggunakan APBN melalui alokasi anggaran Kementerian Pertahanan dan Keamanan, jika dikelola secara komersil atau sekolah penerbangan maka ada keterlibatan pembiayaan dari dari hasil kerjasama operasional Pertamina dan Kementerian Perhubungan.

"Harus dilihat dulu peruntukannya, dan aset itu harus dialihkan dulu ke pemerintah pusat atau daerah, setelah itu baru mau dijadikan Bandara komersil apa militer, atau bisa juga bersama-sama, karena cukup banyak opsi saat ini untuk bandara pulau Bunyu," tuturnya.

Syamsul Banri sendiri belum bisa memprediksi peruntukan bandara Pulau Bunyu tersebut, namun apapun peruntukannya maka akan membawa manfaat cukup besar bagi masyarakat seperti home base pesawat-pesawat militer maka terjadi peningkatan pengawasan pertahanan di wilayah perbatasan, lalu jika komersil atau dibangun sekolah penerbangan maka ada manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar mulai dari hal kecil seperti tersedianya jasa transportasi darat taxi bandara hingga pedagang lainnya, dan dampak menengah dan panjangnya adalah akses para investor yang ingin menanamkan modalnya di Pulau Bunyu cukup potensial.

"Saat ini bisa saja di kombinasikan antara komersil dengan home base kegiatan TNI, seperti Bandara Halim Perdana Kusuma, bahkan menjadi bandara internasional, namun jika bandara di komersilkan maka ada pilihan apakah Kementerian Perhubungan sebagai pengelola atau bersama-sama dengan Pertamina menjadi perusahaan sharing kontrak, dari pada Bandara Bunyu tidak dioperasikan dan menjadi aset tidur, kan lebih baik di manfaatkan dan ada juga positifnya bagi masyarakat," tuturnya.

Profil Singkat Bandara Pulau Bunyu versi Newstara.com

Pulau Bunyu terletak di Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) memiliki landasan pacu (Runway) sepanjang 1.100 meter dengan lebar 30 meter. bandara itu, hasil peninggalan dari PT Pertamina EP Bunyu yakni salah satu anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang memproduksi methanol dan minyak mentah.

Pada saat Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor minyak mentah, bisnis minyak bumi di Pulau Bunyu juga mengalami dampak positifnya dan perekonomian ikut berkembang hingga adanya penerbangan dengan rute Bandara Bunyu ke Balikpapan (PP) yang melayani dua kali penerbangan dalam seminggu. Namun, seiring waktu yakni pada tahun 1998 terjadi Decline produksi minyak mentah dan gas secara drastis di Pulau Bunyu, maka jumlah penumpang pun ikut menurun dan berdampak pada Bandara Bunyu hingga tidak lagi dioperasikan karena biaya operasional yang mahal.

PT Pertamina EP Bunyu dan PT Medco Energi Tarakan kabarnya mengelola Bandara Bunyu hanya untuk akses staf atau karyawannya, namun biaya operasional yang mahal membuat dua perusahaan Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) Migas itu lebih memilih transportasi jalur laut (Speadboat) yang menghubungkan Pulau Bunyu dan Tarakan.

Bandara Bunyu mulai dibangun pada tahun 1983 dan mulai dioperasikan pada tahun 1985 dan ditutup pada tahun 1998. Bahkan, Bandara itu kabarnya di resmikan oleh Presiden Soeharta. Namun, saat ini bandara itu hanya dijadikan lokasi jogging (lari pagi dan sore) bagi masyarakat sekitar dan sekitar lokasi Bandara juga terlihat rumput-rumput yang mulai tinggi.

Reporter: Yoko Handani


Baca Juga
Ayo Buruan Dapatkan Kupon Jalan Santai & Zumba Newstara Berhadiah Motor dan Puluhan Doorprize
Gubernur Irianto Buka-bukaan Soal Pembelian Pesawat N-219 Buatan DI