Ini Dia Cara Menghitung Zakat Fitrah, Maal dan Profesi

| 742 Views
id Ini Dia Cara Menghitung Zakat Fitrah, Maal dan Profesi
Ini Dia Cara Menghitung Zakat Fitrah, Maal dan  Profesi

Newstara.com TARAKAN - Seorang muslim yang telah mampu dalam artian telah berpenghasilan ekonomi maka diwajibkan baginya untuk membayar sebagian harta yang dimiliki kepada orang-orang yang berhak menerimanya, baik melalui panitia zakat maupun didistribusikan secara langsung atau sendiri. Hukum zakat adalah wajib bila mampu secara finansial dan telah mencapai batas minimal bayar zakat atau yang disebut nisab.

Berikut adalah rumus dan contoh akan dipaparkan dalam pembayaran zakat fitrah untuk membersihkan diri, zakat mal atau zakat harta kekayaan dan zakat profesi dari penghasilan yang didapat dari pekerjaan yang dilakoni.

A. Rumus Perhitungan Zakat Fitrah

Zakat Fitrah Perorang = 3,5 x harga beras di pasaran perliter

Contoh : Harga beras atau makanan pokok lokal yang biasa kita makan dan layak konsumsi di pasar rata-rata harganya Rp. 10.000,- maka zakat fitra yang harus dibayar setiap orang mampu adalah sebesar Rp. 35.000,-

Kalau menghitung dari segi berat pengalinya adalah 2,5 x harga beras atau bahan makanan pokok lokal perkilogram.

B. Rumus Perhitungan Zakat Profesi / Pekerjaan

Zakat Profesi = 2,5% x (Penghasilan Total - Pembayaran Hutang / Cicilan)

Menghitung Nisab Zakat Profesi = 520 x harga beras pasaran perkg

Contoh Perhitungan Dalam Zakat Profesi : 
Jika ujang memiliki gaji 2 juta perbulan dan penghasilan tambahan dari kios jualan pulsa dan kartu perdana sebesar 8 juta perbulan maka total penghasilan Bang Jarwo sebesar 10 juta tiap bulan. Bang Jarwo membayar cicilan kredit apartemen tidak bersubsidi pemerintah sebesar 5 juta perbulan.

Harga beras sekilo yang biasa dikonsumsi yaitu sekitar Rp. 8.000,- per kilogram, sehingga nisab zakatnya adalah Rp. 4.160.000,-. Karena Bang Jarwo penghasilan bersihnya 5 juta dan ada di atas nisab, maka Bang Jarwo harus bayar zakat profesi sebesar Rp. 5 juta x 2,5% = Rp. 125.000,- di bulan itu. Untuk bulan selanjutnya dihitung kembali sesuai situasi dan kondisi yang ada.

Zakat profesi memang jadi perdebatan karena tidak ada dalil yang mengena. Di kantor pemerintah umumnya setiap penghasilan otomatis dipotong 2,5% (penuh) untuk zakat profesi. Dengan begitu institusi resmi (ulama) Agama Islam di Indonesia berarti belum mengeluarkan fatwa haram untuk zakat profesi artinya bukan bid'ah. Jika anda tidak sependapat maka sebaiknya ikhlaskan saja dan anggap itu sebagai amal sodakoh anda atau tidak mengeluarkan zakat profesi tetapi membayar zakat mal.
 
C. Menghitung Zakat Maal / Harta Kekayaan

Zakat Maal = 2,5% x Jumlah Harta Yang Tersimpan Selama 1 Tahun (tabungan dan investasi)

Menghitung Nisab Zakat Mal = 85 x harga emas pasaran per gram

Contoh Perhitungan Dalam Zakat Maal Harta:
Nyonya Upit Marupit punya tabungan di Bank Napi 100 juta rupiah, deposito sebesar 200 juta rupiah, rumah rumah kedua yang dikontrakkan senilai 500 juta rupiah dan emas perak senilai 200 juta. Total harta yakni 1 milyar rupiah. Semua harta sudah dimiliki sejak satu tahun yang lalu.

Jika harga 1 gram emas sebesar Rp. 250.000,- maka batas nisab zakat maal adalah Rp. 21.250.000,-. Karena harta Nyonya Upit Marupit lebih dari limit nisab, maka ia harus membayar zakat mall sebesar Rp. 1 milyar x 2,5% = 25 juta rupiah per tahun.

Harta yang wajib dibayarkan zakat mal / zakat harta:
Emas, perak, uang simpanan, hasil pertanian, binatang ternak, benda usaha (uang, barang dagangan, alat usaha yang menghasilkan) dan harta temuan.

Perhitungan untuk hasil pertanian, peternakan, dan harta temuan ada ketentuan yang berbeda dalam hal nisab maupun besaran zakatnya. Ada juga buku yang berpendapat nisab emas adalah 93,6 gram dan perak 672 gr. Untuk lebih mudah bisa kita konversi ke rupiah dulu.

Zakat Profesi adalah Ijtihad Baru?
Ijtihad mengenai zakat profesi telah dilakukan oleh Sahabat Rasulullah saw Ibnu Mas’ud ra, sahabat Muawiyah ra,  dan Umar bin Abdul Aziz (Wafat 101 H / 720 M) yang notabene adalah tabi’in, khalifah yang telah berhasil dalam masa pemerintahannya, khalifah yang mengenakan zakat profesi kepada para pegawainya saat itu, yang mengalami kesulitan mendapatkan “mustahik” atas berlimpahnya zakat yang dikelola negara yang dipimpinnya saat itu (Fiqh Islam wa Adhilatuhu).

Baru belakangan ini mulailah kembali semarak upaya menghidupkan kembali zakat, termasuk zakat profesi, karena seiring dengan berkembangnya zaman, semakin banyaklah ragam sumber pendapatan dan penghasilan termasuk salah satunya penghasilan pegawai atau gaji atau yang disamakan dengannya.

Berkenaan mengenai qiyas atas zakat profesi dengan zakat pertanian atau hasil bumi memang masih terdapat khilaf pendapat. Namun tidak ada khilaf dalam qiyas zakat profesi ini dengan harta atau emas. Karena itu, letak perbedaan atas qiyasnya, bukan atas hukumnya.

Dimana penghasilan yang diperoleh seseorang atas jasa/pekerjaan (PNS, TNI-POLRI, Karyawan Swasta, Guru/Dosen, Dokter, dll) baik secara harian, bulanan atau tahunan yang telah sampai kadar nishabnya.

Dalil

Ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum yang mewajibkan semua jenis harta untuk dikeluarkan zakatnya, seperti dalam QS. At- Taubah: 103, QS. Al-Baqarah: 267, dan QS. Adz-Zaariyat: 19, demikian pula penjelasan Nabi SAW yang bersifat umum terhadap zakat dari hasil usaha/profesi.
Riwayat Abu Ubaid: “Adalah Umar bin Abdul Aziz, memberi upah kepada pekerjanya dan mengambil zakatnya, dan apabila mengembalikan Al-Madholim diambil zakatnya, dan beliau juga mengambil zakat dari athoyat (gaji rutin) yang diberikan kepada yang menerimanya”.
Cara Menghitung Zakat Penghasilan

Ada tiga cara untuk menghitung zakat penghasilan. Perhitungan ini diqiaskan dengan zakat uang dan pertanian.

Diqiaskan dengan zakat uang (naqdain) sepenuhnya. Qias ini kurang mendorong untuk berzakat, tidak proporsional dengan zakat pertanian, dan kurang berpihak kepada fakir-miskin. Diqiaskan dengan zakat hasil tani sepenuhnya. Agak memberatkan muzakki, dan kurang mempertimbangkan perbedaan sifat hasil tani dengan upah kerja. Memakai qias kemiripan (syibih) dengan zakat uang dan hasil tani. Qias ini tidak memberatkan muzakki, lebih mendorong untuk berzakat dan lebih berpihak kepada fakir-miskin.
Qias Zakat Uang Zakat Hasil Tani Zakat Uang dan Hasil Tani
Nishab 85 gram emas 653 kg beras 653 kg beras
Kadar Zakat 2,5% 5% atau 10% 2,5%
Haul 1 tahun Setiap menerima
Penghasilan
Setiap menerima
Penghasilan
Pemotongan Dipotong keperluan
asasi dan pembayaran
hutang
Tidak dipotong Dipotong keperluan asasi
dan pembayaran hutang
Contoh Perhitungan Zakat Dengan Menggunakan Qias ke 3
Bapak Ahmad adalah karyawan sebuah perusahaan swasta. Setiap awal bulan ia mendapat gaji dari perusahaan tersebut sebesar Rp 6.000.000,-. Dari gaji tersebut, bapak Ahmad mengeluarkan keperluan pokok seperti biaya rumah tangga sebesar Rp 3.000.000,- , membayar sekolah 2 orang anak sebesar Rp 1.000.000,- , membayar cicilan rumah sebesar Rp. 750.000,- dan membayar telepon dan listrik sebesar Rp 500.000,-.

Nishab: Setara dengan 653 kg beras. Jika harga beras Rp 5.000,- per-kg, maka nisab dalam rupiah adalah Rp 3.265.000,- Kadar zakat: 2,5% Haul: Setiap menerima gaji Total keperluan asasi dan membayar hutang adalah:  Rp. 3.000.000 + Rp 1.000.000  +  Rp 750.000  +  Rp 500.000 = Rp 5.250.000
Jadi penghasilan bersih dia adalah: Rp 6.000.000 – Rp 5.250.000 = Rp 750.000
Rp 750.000 ini tidak mencapai nishab sebesar Rp 3.265.000. Jadi pak Ahmad tidak perlu membayar zakat penghasilan.

Jika seandainya penghasilan pak Ahmad adalah Rp 9 juta per bulan (bukannya 6 juta per bulan). Maka penghasilan bersihnya setelah dipotong keperluan asasi dan hutang jatuh tempo adalah:

Rp 9.000.000 – Rp 5.250.000 = Rp 3.750.000

Ini sudah melebihi nisab yang sebesar Rp 3.265.000 dan dengan demikian pak Ahmad wajib mengeluarakan zakat profesi sebesar:

2.5% x Rp 3.750.000 = Rp 93.750

Kalau kita perhitungkan “pengeluaran’ maka bisa jadi semua orang nggak jadi berzakat. Namun, karena zakat profesi ini merupakan hasil ijtihad ulama, maka cara perhitungannya dari tergantung ijtihad para ulama. Dan pada umumnya ada 3 cara untuk menghitungnya:

Langsung dihitung dari gaji yang diterima, dikurangi keperluan asasi (yang betul-betul penting), lalu diikurangi biaya hidup yang sebenarnya dan kalau menggunakan cara pertama, maka zakat penghasilan kita menjadi begitu besar dan tidak memperhitungkan aspek keperluan seseorang. Orang kaya tidak masalah dengan cara pertama. Namun sebaliknya orang yang berpenghasilan sedang-sedang saja, tentu agak keberatan dengan cara pertama. Kalau dia dipaksa untuk menggunakan cara pertama, ditakutkan dia menjadi benci dengan zakat, dan pada akhirnya benci dengan ajaran Islam karena dianggap memberatkan.

Namun kalau mengambil cara ketiga yaitu dihitung dari sisa pengeluaran yang sebenarnya, bisa jadi orang itu  terlepas dari zakat pendapatan karena tidak cukup nishab. Malah bisa-bisa orang ini termasuk dalam kategori miskin dan layak menerima zakat.

Maka perhitungan kedua yang kelihatannya lebih adil, karena tidak menyebabkan zakat seseorang menjadi terlalu besar dan pada saat yang bersamaan tidak menyebabkan seseorang itu terlepas dari kewajiban mengeluarkan zakat profesi.

Apa Sebenarnya Pengeluaran Asasi Itu?
Dalam banyak kajian, salah seorang pakar ekonomi syariah di Indonesia Adiwarman A. Karim membedakan bahwa needs adalah sesuatu yang sifatnya pokok, penting untuk esensi hidup dan relatif konstan dalam hidup sesorang. Sedangkan wants sangat dipengaruhi oleh sifat serakah, selalu ingin bertambah dan kadang tidak rasional. Keperluan hidup itu bersifat relatif tetap dari waktu ke waktu, relatif dapat diprediksi dan penting bagi kelangsungan hidup kita. Ulama menambahkan pelunasan hutang juga akan menjadi pengurang harta yang diperoleh per tahunnya.

Jadi yang bisa dimasukkan kedalam keperluan asasi adalah:
Pengeluaran asasi bagi diri sendiri, istri dan anak seperti makanan, pakaian, kesehatan, pendidikan dan tempat tinggal. Pemberian kepada ibu-bapa, pembayaran superannuation, cicilan rumah, bayar hutang penting lainnya.

Contoh yang bukan keperluan asasi seperti:
1. Kursus musik ataupun les-les tambahan untuk anak-anak
2. Membeli TV layar datar, padahal masih ada TV lama yang masih bagus
3. Jalan-jalan keluar kota
4. Tiap minggu makan diluar bersama keluarga
5. Membeli hadiah untuk acara pernikahan dan keperluan lainnya

Sumber:
BAZNAS
PKPU
http://wiemasen.com/
http://organisasi.org 


Baca Juga
Ayo Buruan Dapatkan Kupon Jalan Santai & Zumba Newstara Berhadiah Motor dan Puluhan Doorprize
Gubernur Irianto Buka-bukaan Soal Pembelian Pesawat N-219 Buatan DI