Offroad On The Tract Bumi Papua Oleh Sampe L Purba

| 399 Views
id Offroad On The Tract Bumi Papua Oleh Sampe L Purba
Offroad On The Tract Bumi Papua Oleh Sampe L Purba
Offroad On The Tract Bumi Papua Oleh Sampe L Purba. (Foto: Dok)

Newstara.com - MANOKRAWI - Mengunjungi wilayah terujung Papua merupakans alah satu perjalanan yang cukup menyenangkan, walaupun tidak benar-benar dalam kondisi liburan karena adanya penugasan untuk rapat koordinasi Pengembangan Kawasan Petrokimia di Bintuni-Papua. Namun, tidak ada salahnya menikmati pemandangan di bumi Papua ini. 

"Walaupun mengejar waktu saat saya kembali dari Aceh dan hanya transit di Bandara Soekarno Hatta. AlLhasil, penugasan rapat koordinasi Pengembangan Kawasan Petrokimia di Bintuni sudah menanti. Saya memulai perjalanan sekitar pukul 01.00 dini hari dari Bandara Jakarta - Sorong -  Manokwari dan tiba sekitar pukul 09.00 pagi di Bandara Rendani Manokrawi," tutur penulis Sampe L Purba salah satu penulis dan pemerhati pembangunan sekaligus Alumni Lemhannas RI yang cukup aktif mengirimkan tulisannya untuk Newstara.com

Dari Bandara Rendani lalu penulis bersama rekan-rekannya melakukan konvoi ke Bintuni dengan menggunakan Jeep Double Gardan. Berjalan-jalan di Kota Manokwari sambil menikmati pemandangan kota dan setelah 4 jam perjalanan akhirnya terlihat sebuah bangunan cukup megah yang terdiri dari 5 tingkat seperti kampus-kampus di Jakarta. Lalu, diseberang jalan terlihat bangunan konstruksi pabrik semen.

"Rupanya itu adalah dormitory karyawan, kecuali Satpam yang orang lokal, konon semua pekerja mulai dari tukang rumput, gali selokan, teknisi, ahli hingga ditingkat manajemen didatangkan satu paket dengan proyek," tutur Sampe. Purba.

Sepanjang jalan kota Manokwari, gairah dan semangat Agustusan memang cukup terasa kental dan dibuktikan dengan jejeran umbul-umbul yang dipasang sepanjang perjalanan ditambah lagi anak-anak yang sedang latihan baris-berbaris dan tumba Papua. Penulis pun melanjutkan perjalanan ke salah satu situs bersejarah pendaratan injil, dan juga bunker Jepang pada jaman perang.

Namun, perjalanan kami terhenti dan menunggu hampir 2 jam lamanya bersama kendaraan lainnya untuk menunggu insiden sebuah pohon besar yang menghalang jalan. Setelah bernegosiasi dengan warga sekitar dan di fasilitasi oleh SatGas PamRahWan serta Kepolisian setempat akhirnya perjalanan bisa kembali dilanjutkan.

"Sambil menunggu perbaikan jalan, kami pun mendapat informasi dari warga bahwa kucuran dana OtSus untuk bantuan sapi yang langsung berpindah tangan ke warga pendatang, ibaranya menyemai metamorfosa mentalitas sebagian rakyat ke materialisme, cukup miris memang," tutur Sampe L Purba.

Setelah menyusuri jalan-jalan beraspal hot mix mulus, tim penulis menuju pantai Pasifik yang eksotis dengan hamparan pasir putih dan debuyran ombak yang memanjakan pemandangan. Akhirnya, kami pun memasuki hutan pegunungan ke arah selatan, memasuki jalan yang terjal licin memang benar-benar sebuah kualitas off-road dan memicu adrenalin. Terlihat, beberapa truk logging penopang konsesi HPH tertahan/borot dan harus bermalam di jalan yang berkubang.

"Kami masuk ke hotel sekitar pukul 11 malam, sinyal HP pun samar-samar bahkan listrik pun mati," tuturnya.

Ke esokan paginya penulis menghadiri rapat koordinasi Pengembangan Kawasan Petrokimia yang merupakan tujuan utama kedatangan di Bumi Papua yang eksotik. Namun, rapat sedikit molor hingga siang hari, karena sebagian peserta rapat dari sejumlah pegawai Pemda tertahan banjir. Sementara rombongan lainnya masih berada di site visit ke Teluk Bintuni.

"Malamnya dengan rute yg sama, saya dengan pimpinan rombongan Kementerian kembali ke Manokwari untuk mengejar pesawat pagi karena sudah ditunggu dengan tugas lainnya di Jakarta. Dear God, be with us. Kami bersyukur, pak Bupati Petrus Kasihiw yang berpandangan dan berpergaulan luas, menyediakan satu mobil pengawalan," tulis Sampe L Purba.

Kunjungan yang serba singkat ini memang menorehkan pesan dan makna dengan kesimpulan sangat perlu membangun tanah Papua yang minim akan infrastruktur. Bukan sekedar membangun di Papua, terkadang kita cukup gamang dengan ambiguitas sejarah-relativisme absolusitas yang didikte-pahatkan untuk para pemenang. Termasuk stigmatisasi dan pemahlawanan.

"Kekeliruan utama dalam kutukan sumber daya alam, adalah karena  mengalineasi manusia tanpa capacity building. Penduduk dibungkam dan dimanja dengan kucuran dana. Tidak dipersiapkan, dimentor dan didera  dengan mentalitas persaingan," ujarnya.

Akibatnya mereka tidak pernah fit and proper untuk jabatan yg menuntut disiplin dan standar profesionalitas. Ini bukan sim salabim instan ala tongkat magic Harry Potter. Namun, untuk merubahnya maka perlu Afirmasi kebijakan dan dialektika-bahkan trialektika untuk pemodal-Pemda dan Otoritas Sektor Pusat.

"Kita tidak boleh hanya mengeksploitasi alam dengan ekspor bahan mentah, kalau begitu apa bedanya kita dengan nenek moyang purba yang hanya bisa berburu dan memetik buah ?. Kayu log, batu bara, gas, kelapa sawit, perikanan harus didorong ke hilirisasi pengolahan lanjut yang memberi nilai tambah dan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Harus konsisten dalam implementasi," tuturnya.

Konsesi batu bara tanpa smelter, HPH  tanpa sawmill, gas tanpa pupuk dan petrokimia, perikanan tanpa pengawetan, harus no way! Ciptakan iklim investasi yang kondusif. Sebaiknya hentikan itu pemajakan investasi di hulu. Pemajakan investasi adalah ibarat merampok ransum tentara yang sedang berperang. Atau berburu di kebun binatang yang sekaligus menyasar Pawangnya. Cukurlah bulu setelah rimbun.

Bangunlah secara sinergis konseptual antar instansi program yang kompatibel secara regional. Pelabuhan laut/shore base yang layak, Penerbangan yang teratur, infrastruktur jalan, jaringan listrik yang memadai, fasilitas publik seperti rumah sakit, perbankan,  sekolah dan politeknik. Tidak perlu antar Pemerintah Kabupaten kota mempertontonkan egoisme dan lokalisme yang sempit.

Sorong-Manokwari-Jayapura dalam cluster perencanaan regional terpadu bumi Papua sebagai bagian utuh dari Indonesia. Itulah visi Nawacita Kemaritiman dari Sabang sampai Merauke ala Jokowi-JK. Perlu kebijakan komprehensif, terintegrasi dan holistik yang paten !!! Juga akselerasi dan determinasi visioner Leadership  disertai afirmasi afektif yang mengedukasi.

Pemerintah tidak perlu pening investasi infrastruktur yang dapat membebani APBN atau mencari tambalannya dengan menerbitkan obligasi. Biar pemegang konsesi yang melakukannya dalam bingkai Private-Public-Participation. Seperti cara Gubernur Ahok, kreativitas cerdas dalam koridor aturan.
Harapan kita, Papua tidak hanya dikenal dengan sumber daya alamnya, tetapi juga sumber daya manusianya, yang unggul dan berkualitas dan SDM yang mengelola SDA secara bijak dan bermartabat. Itulah pembangunan yang on tract, bnangunlah jiwanya, bangunlah raganya. Untuk Indonesia Raya," tulis Sampe L Purba menutup tulisan singkatnya dalam perjalanan ke Bumi Papua. (***)


Baca Juga
Ayo Buruan Dapatkan Kupon Jalan Santai & Zumba Newstara Berhadiah Motor dan Puluhan Doorprize
Gubernur Irianto Buka-bukaan Soal Pembelian Pesawat N-219 Buatan DI