Naik Haji Ilegal Lewat Filipina Bayar Rp 80 Juta Perorang

| 479 Views
id Naik Haji Ilegal Lewat Filipina Bayar Rp 80 Juta Perorang
Naik Haji Ilegal Lewat Filipina Bayar Rp 80 Juta Perorang
Naik Haji Ilegal Lewat Filipina Bayar Rp 80 Juta Perorang. (Foto: Istimewa)

Newstara.com NUNUKAN - Tertangkapnya 17 dari 30 orang jamaah calon haji asal Kabupaten Nunukan, yang membawa dokumen keberangkatan haji secara ilegal atau tidak sah, dengan melalui jalur kuota jatah haji negara Filipina. Ternyata prosesnya sangat mudah, yakni cukup mendaftar dan membayar uang Rp 80 juta, lalu beberapa bulan kemudian langsung dinyatakan bisa berangkat ke tanah suci.

Ini berbeda dengan jalur resmi dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, yang mengharuskan seorang jamaah calon haji harus menunggu masa antri hingga 20 tahun lamanya. Sehingga, jalur ilegal menjadi pilihan masyarakat untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Namun, sayang cara yang ditempuh adalah salah, bahkan kasus seperti ini sudah terjadi dalam 3 tahun terakhir.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, HM Shaberah mengatakan selama ini Pemkab Nunukan merasa sangat kesulitan untuk meningkatkan kuota haji, dimana setiap tahunnya peminat terus saja bertambah sehingga menyebabkan 1 orang jamaah harus mengantri hingga 20 Tahun.

"Kita akui mas, kita masih kesulitan dalam peningkatan quota tersebut, tapi jangan sampai kejadian kita mengantri akan tetapi kita harus pakai dokumen palsu atau menggunakan paspor Filipina, ini sudah jelas sangat salah," tutur Shaberah melalui selulernya kepada Newstara.com

Menurutnya, negara Filipina mendapat jatah haji dari kerajaan Arab Saudi sekitar 1.500 jamaah. Namun, setiap tahunnya malah kuota tersebut tidak terpenuhi sehingga kerap kali digunakan oleh sejumlah penduduk di negara tetangga seperti Indonesia.

Alhasil, Indonesia yang memiliki jumlah muslim mayoritas dan over kapasitas haji membuat sejumlah travel haji dari Filipina menawarkan jatah haji asal filipina dan setiap pendaftar melalui jalur ini harus menggunakan pasport dari Filipina sehingga dinyatakan dokumen ilegal. 

"Travelnya berasal dari Filipin yang membuka cabang melalui calo agar naik haji melalui negara tersebut, biayanya lebih murah, sekitar Rp 80 juta perorang," tuturnya.

Shaberah mengatakan modus perekrutan calo dan travel untuk jamaah haji ilegal di Nunukan ini cukup rapi, karena menggunakan jasa-jasa warga lokal sehingga sangat sulit untuk dilacak dan menangkap para calo tersebut. Namun, jika masyarakat memahami dengan baik maka hal itu tidak akan terjadi.

"Travel mereka selalu memberikan kemudahan kepada masyarakat di Sebatik Nunukan dengan naik haji yang berangkat dari Filipina tapi pakai data palsu dan biaya hanya Rp 80 juta jauh, sementara di Indonesia sekitar Rp 130 juta per orang dengan fsilitas yang sama," tuturnya.

Reporter: Bonar Sahat


Baca Juga
Ayo Buruan Dapatkan Kupon Jalan Santai & Zumba Newstara Berhadiah Motor dan Puluhan Doorprize
Gubernur Irianto Buka-bukaan Soal Pembelian Pesawat N-219 Buatan DI