Ini Sebenarnya yang Terjadi Penangkapan CJH Indonesia Pengguna Passpor Filipina

| 1033 Views
id Ini Sebenarnya yang Terjadi Penangkapan CJH Indonesia Pengguna Passpor Filipina
Ini Sebenarnya yang Terjadi Penangkapan CJH Indonesia Pengguna Passpor Filipina
Kondisi terakhir 176 CJH yang ditangkap Imigrasi Filipina dan sekarang berada di KBRI Manila. (Foto: APS/Netizen)

Newstara.com SEBATIK - Kondisi terakhir calon jamaah haji (CJH) yang ditangkap pihak Imigrasi Filipina beberapa waktu lalu, saat ini masih dalam keadaan sehat wal'afiat. Mereka keseluruhannya sekitar 176 orang yang terdiri dari warga di Kabupaten Berau, Kota Tarakan, Samarinda, Balikpapan sebanyak 30 orang dan khusus untuk Kabupaten Nunukan sebanyak 11-17 orang, lalu sisanya terdiri dari daerah lainnya.

Mereka gagal pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji karena menggunakan passpor Filipina dan saat ini pihak KBRI Manila menginapkan seluruh warga RI itu di aula kantor KBRI Manila untuk menunggu instruksi pendeportasian kembali ke Indonesia. Namun, belum diketahui apakah mereka melalui Sebatik Nunukan atau ke Jakarta.

Asosiasi Pelagi Sebatik melaporkan kronologi tertangkapnya CJH asal Indonesia yang menggunakan passpor Filipina itu yakni sekitar 11 orang  CJH asal Sebatik akan berangkat pada tanggal 15 Agustus 2016 mendatang. Mereka dari Sebatik-Nunukan menuju Tawau-Malaysia menggunakan pasport Indonesia, namun setibanya di Tawau maka para CJH asal sebatik itu menginap 1 malam di salah satu hotel.

"Setelah mengniap semalam di Tawau mereka berangkat ke Kinabalu menggunukan pesawat dari Bandara Tawau, setelah sampai di Kinabalu mereka menginap lagi semalam, dan persiapan menuju Manila," tutur Asosiasi Pelangi Sebatik.

Kabarnya, instruksi itu di komandoi oleh seseorang bernama Syekh Haji Rasidin melalui selulernya dan komunikasi terus dijalin oleh salah satu CJH asal Sebatik-Nunukan. H. Rasidin diketahui adalah warga Filipina yang telah menetap di Manila dan mengurus segala keperluan dan kelengkapan mulai dari Passpor, Akte Kelahiran di Manila yang dipalsukan.

"Lalu pada tanggal 17 Agustus 2016 para CJH asal Sebatik yang tiba di Manila lalu dijemput oleh Haji Rasidin, lalu di inapkan lagi di hotel Manilai hingga menunggu keberangkatan menuju Jeddah-Mekkah dan transit di Dubai," tuturnya.

Namun, apesnya sekitar pukul 21.00 waktu setempat pada tanggal 18 Agustus 2016 para CJH yang sudah di kumpulkan dari berbagai daerah di Indonesia lalu menuju Bandara Manila untuk chek in di salah satu maskapai penerbangan menuju Dubai untuk menunaikan haji.

"Sebenarnya pesawat take off atau berangkat itu tanggal 19 Agustus 2016 pukul 03.00 waktu manila, tapi salah satu CJH asal Sebatik bernama Ronggo dicurigai oleh Imigrasi Filipina karena tidak bisa berbahasa asli Filipina yakni Tagalog, ataupun bahasa kedua seperti Bahasa Sulu, Bahasa Bajau atau Bahasa Inggris sehingga membuat Imigrasi curiga, lalu saat di tanya-tanya ternyata Ronggo menggunakan Bahasa Indonesia dan membuat pihak Imigrasi menahan Ronggo, dan Imigrasi pun memeriksa semua rombongan lalu diketahui bahwa jamaah lainnya berasal dari Indonesia," tuturnya.

"Saat diperiksa ternyata ada sekitar 176 orang CJH asal Indonesia yang menggunakan passpor Filipina dengan menggunakan akte kelahiran palsu yang di urus di Filipina," tambahnya. (Netizen Asosiasi Pelagi Sebatik)


Baca Juga
Ayo Buruan Dapatkan Kupon Jalan Santai & Zumba Newstara Berhadiah Motor dan Puluhan Doorprize
Gubernur Irianto Buka-bukaan Soal Pembelian Pesawat N-219 Buatan DI