Ini Penyebab Warga KTT Ogah Konversi Dari Mitan ke Elpiji

| 129 Views
id Ini Penyebab Warga KTT Ogah Konversi Dari Mitan ke Elpiji
Ini Penyebab Warga KTT Ogah Konversi Dari Mitan ke Elpiji

Newstara.com TANA TIDUNG – Sejumlah masyarakat di Kabupaten Tana Tidung hingga kini masih cukup banyak yang menggunakan minyak tanah (Mitan) dan masih enggan berpindah ke gas LPG 3 kilogram (Gas Melon) atau gas non subsidi lainnya seperti gas 14 kilogram. Bahkan, penggunaan elpiji dan miyak tanah (mitan) hampir sama besarnya karena sebagian masyarakat masih memilih menggunakan cara masak tradisional dengan penggunaan kompor berbahan bakar mitan, sementara kerap kali penggunaan kompor gas sering mengalami kelangkaan dengan berbagai alasan.

Warga menganggap Minyak Tanah (Mitan) masih lebih efektif dan tidak menimbulkan ketakut-takutan terjadinya ledakan seperti pengguna gas. Bahkan, harga mitan diketahui telah turun menjadi sekitar Rp 12 ribu perliternya dari sebelumnya seharga Rp 18 ribu perliternya. Sehingga warga KTT masih tetap menggunakan cara lama akan untuk membeli mitan.

Seperti yang dikatakan Shodikin, salah satu Agen Mitan di Jalan Jenderal Sudirman RT.1 Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap itu menganggap pasokan mitan dari Tarakan masih sangat terjangkau oleh masyarakat ditambah takaran yang sesuai, harga mitan yang dijual Rp 12 ribu perliter dengan pembelian mitan dari pasokan sekitar Rp 11 ribu perliternya sehingga keuntungan yang kecil dianggap muncukupi, karena hasil penjualan tetap lancar daripada mengambil keuntungan besar tapi sering mengalami kelangkaan seperti gas 3 kilogram.

"Yaa nda papa untung sedikit yang penting lancar, dari pada gas 3 kilogram langka-langka terus," tuturnya.

Dalam satu bulan Shodikin mampu mendistribusikan mitan sebanyak 10 hingga 15 drum  dengan masing-masing volume berkisar 200 liter, namun karena pasokan berasal dari Tarakan maka juga biasanya terbatas sehingga tidak diperbolehkan melakukan penimbunan dalam jumlah besar.

Sementara, pemilik pangkalan elpiji melon, Khoirul Arifin yang berada di Desa Tideng Pale Timur, Kecamatan Sesayap mengatakan kondisi gas 3 kilogram atau jenis gas non subsidi lainnya memang hampir sama jumlah penjualannya di Kabupaten Tana Tidung (KTT), bahkan dalam 1 bulan sejumlah pangkalan memasok gas 2-3 kali dengan rata-rata pasokan 1.000 tabung lebih sehingga dianggap cukup efektif untuk masyarakat, hanya saja karena pasokan berasal dari Tarakan maka biasanya sering terjadi kelangkaan.

"Harga elpiji melon juga lebih terjangkau dengan eceran Rp 27 ribu pertabungnya, untuk isi 3 Kg ini bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sekitar sepekan bahkan lebih sementara untuk pemilik warung makan bisa bertahan tiga sampai empat hari, jadi dengan penghematan penggunaan elpiji ini juga menjadi salah satu masyarakat tetap membeli elpiji melon ini," jelasnya.

Reporter: Ani Murdiati


Baca Juga
Ini Daftar Sementara Berkas Parpol Masuk ke KPUD Tarakan
Gubernur Irianto Hadiri FGD Tindak Lanjut Pemeriksaan BPK