Tanggul Tambang, Ini Pernyataan DLH Malinau Soal MA dan BDMS

| 101 Views
id Tanggul Tambang, Ini Pernyataan DLH Malinau Soal MA dan BDMS
Tanggul Tambang, Ini Pernyataan DLH Malinau Soal MA dan BDMS
Ilustrasi sungai besar. (Foto: Intisari.grid)

Newstara.com MALINAU - Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merilis pers terkait pengelolaan air tambang di Kabupaten Malinau terkait penanganan tergerusnya tanggul penampungan air tambang pada tanggal 4 Juli 2017 lalu. Disebutkan bahwa PT Baradinamika Muda Sukses (BDMS) dan PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MA) telah berhasil menanganinya dengan baik dan responsif.

Kejadian terkait tergerusnya tanggul itu merupakan kejadian yang tidak disengaja atau kelalaian perusahaan. Namun, lebih disebabkan karena faktor lainnya tanpa diketahui. Namun, pada saat kejadian itu juga telah dapat diselesaikan perbaikan dan berkelanjutan.

"MA dan BDMS telah melaksanakan rekomendasi kami. Penanganan pun sudah selesai. Sejumlah rekomendasi perbaikan kami sampaikan, semata dalam rangka mangantisipasi manakala curah hujan tinggi. Kalau skala curah hujan seperti sekarang, penanganan dari pihak perusahaan sudah sangat cukup. Tapi memang manakala ada curah hujan besar seperti beberapa waktu lalu, setidaknya sudah disiapkan antisipasi lainnya," tutur Petrus Kepala Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Malinau, melalui press rilies yang diterima Newstara.com pada Sabtu siang, (02/09/2017).

Menurutnya, bila dilakukan perencanaan peningkatan produksi, maka instalasi yang ada sekarang tidak akan bermasalah dari sisi pengelolaan air tambang, karena telah ditangani dengan baik oleh PT Baradinamika Muda Sukses (BDMS) dan PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MA).

Petrus mengatakan komitmen manajemen MA dan BDMS dalam memperbaiki persoalan lingkungan sangat tinggi dan responsif. Pasalnya, saat timbul persoalan maka langsung ditangani dengan baik. Bahakn, rekomendasi perbaikan dari Dinas dapat dieksekusi secara langsung. Sementara, dua perusahaan lainnya, ketika diberi rekomendasi maka tiga hari kemudian baru dilakukan rapat dan belum diekseskusi.

"Sementara MA dan BDMS, diberi rekomendasi sore, malam atau besok langsung dilaksanakan perbaikan, bahkan air rawa terkontaminasi dengan air tambang, sebanyak air rawa, akan tetap dialirkan kembali ke tambang, untuk kemudian dikelola terlebih dahulu. Itu langkah positif yang dilakukan teman-teman MA dan BDMS. Kita dari Dinas Lingkungan Hidup memberi apresiasi atas komitmen dan tindakannya," tegas Petrus.

Menurutnya, hasil kunjungan ke lokasi (site mining) bersama Bupati Kabupaten Malinau pada Selasa lalu (29/08/2017), maka terlihat perusahaan tambang lain di Malinau diharapkan untuk dapat mencontoh langkah cepat penanganan masalah yang dilakukan MA dan BDMS. Sementara, di sisi lainnya diharapkan masyarakat juga lebih jernih melihat penanganan yang dilakukan perusahaan karena boleh jadi perbaikan itu tidak langsung tuntas selesai dalam satu hari. 

"Pak Bupati pun sudah mengingatkan, untuk bekerjasama dengan perusahaan, apa yang harus diperbaiki dan langkahnya seperti apa. Kami kemarin memang minta dua perusahaan tambang lain, jangan malu lah, kalau memang ada yang bisa dipelajari di BDMS, jangan malu untuk pelajari," ujar Petrus.

Sekedar informasi, pada tanggal 4 Juli 2017 lalu telah terjadi insiden yakni tanggul tergerus akibat tingginya curah hujan, setelah dilakukan peninjauan lapangan oleh DLH Malinau yakni tanggal 9 Juli 2017, terlihat bahwa kebocoran itu sudah selesai diperbaiki dan sudah sesuai dengan rekomendasi yang disampaikan oleh Dinas Lingkungan Hidup.

"Agar kejadian serupa tidak terulang, Mitrabara terus melakukan perbaikan dan penebalan tanggul mengikuti rekomendasi dari ahli Geoteknik. Perbaikan yang dilakukan berdasar rekomendasi ahli Geoteknik antara lain, menggunakan material cohesive yang dipadatkan. Fungsi material cohesive ini sebagai liner yang memiliki permeabilitas kecil," tutur Petrus. 

Untuk Berita Acara Hasil Peninjauan Sistem Pengelolaan Air Tambang PT Mitrabara Adiperdana Tbk dan PT Baradinamika Mudasukses, yang diterbitkan DLH Malinau, maka perusahaan telah melakukan pengelolaan air tambang sebagaimana terdapat pada IPAL pit Betung dan air pada titik penataan sesuai dengan bahan baku mutu.

Dalam dokumen tersebut, DLH Malinau juga memastikan bahwa IPAL pit Betung, telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Lalu, pada IPAL TP 02 MA, saat dilakukan peninjauan juga telah dilakukan perbaikan. Dan untuk selanjutnya IPAL TP 03 MA pada saat peninjauan pun telah memenuhi baku mutu air tambang. 

Sementara, saat dikonfirmasi Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara mengatakan perusahaan tambang yang sungguh-sungguh menerapkan Good Mining Practice (GMP) atau tata kelola pertambangan yang baik dan benar memang layak diberikan apresiasi.

Marwan menyebutkan, perusahaan dengan prinsip GMP mampu menerapkan teknologi yang sesuai yang berlandaskan pada efektifitas dan efisiensi, melaksanakan konservasi bahan galian. Perusahaan juga menerapkan prinsip konservasi dan nilai lindung lingkungan, kepedulian terhadap kesehatan, meciptakan nilai tambah bagi pengembangan wilayah dan masyarakat sekitar. 

"Perusahaan itu juga menggunakan standarisasi keteknikan dan teknologi pertambangan yang tepat dalam aktifitasnya.  Tentu saja perusahaan yang memiliki respons cepat manakala terjadi masalah layak mendapat apresiasi. Itu membuktikan perusahaan sudah menerapkan tata kelola yang baik dan benar," tutur Marwan.  

Marwan melanjutkan, perusahaan tambang yang baik, selalu menerapkan pengelolaan limbah mereka dengan pendekatan lingkungan dan prinsip keberlanjutan dalam artian selalu memperhatikan aspek lingkungan dan masyarakat sekitar. Salah satu cirinya, perusahaan itu memiliki Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang memadai dan sesuai standar yang diterapkan oleh regulator.

Reporter: Andika


Baca Juga
Ayo Buruan Dapatkan Kupon Jalan Santai & Zumba Newstara Berhadiah Motor dan Puluhan Doorprize
Gubernur Irianto Buka-bukaan Soal Pembelian Pesawat N-219 Buatan DI