Diduga, Sungai Malinau Mengandung Zat Berbahaya dan Mematikan

| 101 Views
id Diduga, Sungai Malinau Mengandung Zat Berbahaya dan Mematikan
Diduga, Sungai Malinau Mengandung Zat Berbahaya dan Mematikan
Sungai di Kabupaten Malinau. (Foto: Dok. libregraphics.asia)

Newstara.com MALINAU - Insiden jebolnya tanggul limbah batubara pada tanggal 4 Juli 2017 lalu, dan menyebabkan mengalirnya air limbah tersebut ke sepanjang bantaran sungai Malinau. Membuat air menjadi keruh dan diduga mengandung racun yang sangat membahayakan bagi kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Bahkan, paling parahnya bisa menyebabkan kematian.

JATAM Kaltara merilies pers terkait kandungan sungai di Kabupaten Malinau, yang sudah dianggap tidak layak dan tidak sehat bagi masyarakat sekitar. Dimana, saat ini air sungai Malinau diduga mengandung mengandung Silika (SiO2), Alumina (Al203), Fero Oksida (Fe203), Kalsium Oksida (CaO) Magnesium Oksida (MgO), Titanium Oksida (TiO2), Alkalin (Na2O) dan Kalium Oksida (K2O), Sulfur Trioksida (SO3), Pospor Oksida (P205) dan Karbon.

"Air sungai yang terpapar limbah tersebut, sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, harus disikapi dan di telusuri dengan baik, kami merilies pers ini sesuai dengan data yang di ambil sampel air oleh PDAM Kabupaten Malinau yang menyatakan bahwa tingkat kekeruhan air baku pada sungai Malinau meningkat secara tajam," tulis Jaringan Advokasi Pertambangan (JATAM) Ki Bagus Hadikusuma.

Menurutnya, tingkat kekeruhan air baku meningkat hampir 80 kali lipat, dari 25 NTU (Nephelometric Turbidity Unit) menjadi 1.993 NTU karena diduga mengandung limbah batubara yang telah mencemari sungai tersebut akibat insiden jebolnya tanggul perusahaan Batubara yang beroperasi di sekitar sungai.

"Konsesi berada diatas badan sungai Malinau, derita rakyat akan terus berlanjut. Peristiwa pencemaran sungai dan jebolnya tanggul limbah batubara yang terjadi berulang-ulang ini tidak lepas dari wilayah konsesi pertambangan batubara yang berada di atas badan Sungai Malinau," tulisnya.

Menurutnya, Sungai Malinau digunakan oleh 4 perusahaan tambang yakni PT. Mitrabara Adiperdana (PT MA), PT Baradinamika Muda Sukses (PT BDMS), PT Kayan Putra Utama Coal (PT KPUC) dan PT Atha Marth Naha Kramo (PT AMNH).

"Empat perusahaan tersebut berkontribusi besar dalam memberikan pencemaran air sungai karena konsesi mereka berada diatas badan sungai Malinau, dan itu adalah sebuah pelanggaran yang tiak dapat diterima dan mengancam kehidupan masyarakat sekitar sungai Malinau," tulisnya.

Selain itu, ada dugaan bahwa telah terjadi pemalsuan dan duplikasi AMDAL yang dilakukan oleh PT MA pada Dirjen Penegakkan Hukum Kementerian LHK. Dimana, JATAM menemukan AMDAL milik PT MA sama dengan AMDAL milik PT Mestia Persada Raya, sehingga kuat dugaan bahwa perusahaan tersebut melakukan copy-paste AMDAL dari perusahaan lain, begitu pula dugaan Copypaste AMDAL PT BDMS yang masih mencantumkan nama Kabupaten dan Bupati Berau dalam AMDAL-nya.

"Menambang Malinau maka sudah pasti akan menghancurkan Komitmen sebagai Konservasi di Kabupaten Malinau, karena sungai Malinau merupakan hulu dari sungai-sungai besar di Kaltara dan Kaltim," ujar Ki Bagus Hadikusuma.

Ki Bagus menilai jika sungai di Kabupaten Malinau tercemar oleh limbah batubara, maka dapat dipastikan akan memperluas kerusakan dan pencemaran hingga ke wilayah lain di hilir sungai. Pasalnya, terdapat 50 persen hutan di Malinau merupakan bagian dari Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) yang merupakan salah satu Jantung Borneo.

Atas dasar itu pula pada tanggal 5 Juli 2005 Kabupaten Malinau Mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Konservasi, mengingat pentingnya Kabupaten Malinau dan sungai Malinau sebagai penyangga keanekaragaman hayat di Kaltara dan Kaltim, maka Kabupaten Malinau harus bersih dari aktiias pertambangan dan tiak lagi menjadikan dirinya sebagai toilet investasi energi kotor," tulisnya.

JATAM juga meminta kepada Pemerintah Provinsi Kaltara untuk dapat mengevaluasi semua Izin Pertambangan di Kabupaten Malinau serta mencabut seluruhnya karena sesuai dengan komitmen bersama yakni Malinau sebagai Kabupaten Konservasi.

JATAM juga merilies PT MA dan PT BDMS adalah perusahaan asal Jepang, dengan nilai investasi sekitar USD 24 juta melalui Bank JBIC, lalu sekitar 30 persen sahamnya telah di akuisisi oleh Idemitsu Kosan, yakni sebuah perusahaan energi asal jepang. Sementara, sekitar 37 persen hasil produksi batubaranya diekspor untuk pembangkit listrik di Jepang.

Reporter: Andika


Baca Juga
Inysa Allah, Wagub H Udin Buka Acara Jalan Santai & Zumba Newstara
Keluarga Besar Coto Makassar Daeng Abu Borong 100 Lembar Kupon Jalan Santai & Zumba Newstara