Yuk Mengenal Kerajaan Tidung di Baloy Mayo Adat Tidung di Tarakan

| 2724 Views
id Yuk Mengenal Kerajaan Tidung di Baloy Mayo Adat Tidung di Tarakan
Yuk Mengenal Kerajaan Tidung di Baloy Mayo Adat Tidung di Tarakan

www.newstara.com - TARAKAN - Kota Tarakan merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Hiruk-pikuk ekonominya pun terus tumbuh dan berkembang cukup pesat dalam sepuluh tahun terakhir ini, mulai dari pelabuhan yang ditingkatkan statusnya menjadi pelabuhan besar internasional pada jalur utara hingga Bandar Udara Juwata Tarakan yang sudah berstatus Bandara Internasional, selain itu Rumah Sakit berskala Internasional yaitu RSUD Tarakan dengan gedung megahnya.

Namun, di kota imut ini ternyata menyimpan tragedi besar yakni pernah menjadi wilayah strategis untuk dikuasai oleh penjajah sebelum menduduki wilayah Bulungan dan Berau. Alhasil, peperangan besar pun tak terelakkan antara para perjuangan rakyat saat merebut pulau Tarakan dari penjajah Belanda dan Jepang. Sejumlah mini kilang dan sumur-sumur minyak dan gas menjadi ajang pembakaran massal.

Selain itu, di Kota Tarakan ini juga pernah berdiri sebuah kerajaan kecil hasil perpecahan Kesultanan Bulungan, yaitu kerajaan Tidoeng. Saat itu, sekitar 300 hingga 500 tahun lalu penjajah Belanda melancarkan strateginya untuk memecah belah para pengikut dan kerabat Kesultanan Bulungan, dan mengajak Sultan Bulungan untuk bekerjasama, hasilnya pro dan kontra pun bermunculan. 

Sementara masyarakat yang kontra dengan keputusan kerjasama itu memilih memisahkan diri termasuk para tetua adat Tidung dan mendirikan kerajaan kecil yang diberi nama Baloi Adat Tidoeng yang dibangun di jalan Datu Adil Tarakan (red,Wisma Patra). Namun, lagi-lagi perlawanan yang dilakukan para pejuang tidak berimbang dari segi militer, strategi hingga tentara yang tidak memadai. Lalu pada puncaknya Baloi Adat Tidoeng yang menjadi simbol kekuasaan kerajaan Tidung di Tarakan pun dihancurkan dan dilokasi itu didirikan Kantor Perwakilan Belanda di wilayah Utara Kalimantan dan membawahi komando pasukan dari wilayah Serawak Malaysia hingga daratan Samarinda. Di wilayah bekas kerajaan Tidung itu sampai saat ini masih berdiri gedung perkantoran Belanda, dan sebagian sisi bangunan masih berdiri dengan kokoh yang kita kenal dengan nama Gedung Wisma Patra Tarakan.

Gedung Wisma Patra ini juga menjadi rumah pribadi komandan pasukan dan pejabat-pejabat tinggi militer Belanda yang datang berkunjung. Bahkan, sering kali menjadi tempat pesta dan acara dansa para kompeni (sebutan orang belanda) saat menjamu tamu-tamunya, sebelum direbut oleh tentara Jepang yang memperluas bangunan dan tempat latihan tentara serta barak tentara hingga ke Selatan dan Utara (Saat ini barak di sisi Selatan digunakan kantor Kodim dan sisi Utara dibangun Stadiun Datu Adil Tarakan).

Kembali pada Kekuasaan Tidung di Tarakan, yang kabarnya hingga kini sisa-sisa kerajaan Tidung sangat sulit di dapat, bahkan hampir tidak terlihat sedikitpun, hanya beberapa benda-benda peninggalan yang masih disimpan baik oleh beberapa pewaris atau orang-orang dari garis keturunan raja-raja Tidung yang masih hidup hingga saat ini. Seperti rantang nasi, tempat makan sirih, tempat buah-buahan dan beberapa benda lainnya. Sementara, pedang, tombak dan senjata lainnya tidak pernah terlihat dan tidak terbukti bekas peninggalan kerajaan Tidung.

Untuk lebih mengenal sejarah kerajaan ini, redaksi newstara.com mencoba mendatangi miniatur Balai Adat di jalan Aki Balak Kota Tarakan Kaltara yang kabarnya sangat mirip dengan aslinya dan dibangun oleh Kepala Adat Besar Dayak Tidoeng Kalimantan, Mochtar Basry Idris dan dikelola oleh putranya yaitu H. Edy Wijaya yang merupakan Kepala Pengurus Balai Adat Dayak Tidoeng dan sebagai pewaris tahta dinasti selanjutnya.

Edy pun menuturkan bahwa ayahnya adalah keturunan dari dinasti ke 14 dari keturunan Raja-raja Tidoeng dan membangun balai adat dengan nama "Amiril Pengiran Djamaloel Qiram", dan diresmikan oleh An. Gubernur Provinsi Kalimantan Timur Jurnalis Ngayoh pada tangga 4 Agustus 2006.

"Kita membangun balai Adat ini sendiri, tanpa bantuan pemerintah dan ini murni dana pribadi Ayah saya, dengan tujuan hanya untuk melestarikan suku adat Tidung, materi 90 persen terbuat dari kayu-kayu ulin, dan bangunan miniatur ini hampir sama hanya sekarang ini dibangun lebih kecil dari aslinya," tuturnya kepada redaksi newstara.com

Balai adat ini terdiri dari miniatur rumah dari keluarga dan anak-anak kerajaan, antara lain Dayang Putri Sabah, Dayang Intan Djoera, AP Djamaloel Ail Qiram, Dayang Fatimah, selai itu juga terdapat pendopo atau lubung Tamba Bayanginum dan Bayaintamu Apmachkuta Adji Radin Alam tempat menjamu para tamu kerajaan.

"Untuk kerajaan ini sebenarnya baru saja dibuka untuk umum, kalau dulu khusus untuk keluarga kerajaan saja karena terlalu banyak hal-hal yang mistis disini, jadi dikhawatiran terjadi apa-apa dengan pengunjung, tapi sekarang kita beranikan diri untuk bisa dibuka untuk umum namun tetap balai utama tidak dibuka, hanya waktu-waktu tertentu saja kita buka," tutur Edy.

Balai adat ini berdiri di lahan seluas 5 hektar (ha), namun luas wilayah wisatanya hanya sekitar 1,5 ha dan dalam waktu dekat pihaknya akan diperluas tempat-tempat wisata dengan menambah beberapa pendopo, cafe, Waterboom mini dan Sepeda mini. Tiket masuknya pun masih tergolong murah meriah, hanya Rp 3.000 per orangnya.

"Iya memang banyak yang bilang karcis masukknya murah, karena tidak ada tujuan keuntungan kan, hanya ingin melestarikan budaya saja, setiap harinya balai adat ini dikunjungi sekitar 100 orang, namun saat weekend atau musim libur tiba, jumlah pengunjung pun ikut naik," tuturnya.

Nah, bagi para pelancong yang berniat bepergian ke Kota Tarakan. jangan lupa sempatan diri kunjung Balai Adat Tidong, sambil mengenal sisa-sisa peninggalan kerajaan melayu di Kalimantan Utara ini.

Reporter: Yoko Handani


Baca Juga
Ayo Buruan Dapatkan Kupon Jalan Santai & Zumba Newstara Berhadiah Motor dan Puluhan Doorprize
Gubernur Irianto Buka-bukaan Soal Pembelian Pesawat N-219 Buatan DI