Connect with us

Covid-19

Gelora Ramadhan Dalam Bayang-bayang Virus Corona

Ketua DPW Partai Gelora Kaltara Surya Yuniza. (Ft. Dok)

Ramadhan tahun ini di tengah pandemi seperti ujian tambahan. Puasa yang ditunggu kehadirannya bagi umat islam seakan hilang gegap gempitanya. Menghadapi wabah virus corona menjadi kejutan khususnya bagi umat islam.

Wabah virus corona seperti menjadi bencana besar dalam satu abad ini bahkan lebih dari sekedar bencana alam. Virus yang disebut corona virus disease 2019 (covid-19) menjadi ancaman global. Negara-negara terdampak berlomba mengambil kebijakan lockdown.

Wabah corona laksana musuh tak terlihat namun mematikan. Tak ada negara adidaya yang sanggup membendung arus penyakit ini. Bahkan seorang Bill Gates sampai mengeluarkan kocek pribadinya melalui yayasannya untuk membantu saintis menemukan vaksin.

Namun penemuan vaksin bukan pekerjaan singkat. Terlebih negara-negara pandemi diguncang resesi ekonomi. PHK sudah terjadi bahkan bukan tidak mungkin akan terus berlanjut. Di negara kita sudah satu juta lebih terdampak PHK. Miris namun tak bisa dihindari. Hampir semua sektor lumpuh. Industri tutup, perusahaan bangkrut, pengangguran naik tajam.

Namun yang memprihatinkan lebih dari 500 nyawa meninggal karena covid-19. Sementara jumlah penderita tembus lebih dari 6.000 orang. Kalimantan Utara sendiri sudah 69 orang positif terkena covid-19 dan 1 orang meninggal dunia. Tertinggi se-ASEAN setelah filipina.

Dibalik musibah

Dibalik wabah ini selain rasa cemas tentu ada hikmah bagi kita menghadapi ujian ini. Kepekaan sosial kita akan teruji apakah termasuk bagian yang mengambil peran untuk membantu yang terdampak. Minimal bukan bagian yang justru menolak pejuang medis dan korban covid-19.

Bagi umat Islam khususnya, ujian wabah menjelang Ramadhan menjadi catatan tersendiri. Nabi SAW menyampaikan risalahnya “Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).

Aspek keyakinan inilah yang menjadi tameng bagi kita. Ramadhan bulan keberkahan. Amalan ibadah dilipatgandakan. Sesulit apapun dalam ibadah tak akan mengurangi keutamaan amalan.

Selain kesadaran keyakinan dalam menghadapi pandemi di bulan Ramadhan aspek lainnya adalah kesehatan. Kehati-hatian bukan berarti kepanikan. Dalam puasa kita diajarkan menahan lapar dan hawa nafsu. Wabah covid-19 menjadi nilai tambah karena ujian menghadapi hal yang tak terlihat.

Di aspek lain Ramadhan di tengah pandemi bisa juga memfilter ekonomi kita. Seiring terbatasnya ketersediaan dana, kebijakan semacam PSBB ikut membantu mencegah kebocoran pengeluaran yang tidak perlu.

Dari aspek-aspek itulah kita perlu berkaca kembali untuk menghidupkan Ramadhan dengan keprihatinan. Namun tidak berarti mengurangi semangat ibadah di bulan Ramadhan. Ramadhan bulan berbagi. Saat nya dimulai dari diri sendiri.

Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang bulan suci. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi Umat Muslim. Mohon maaf lahir bathin. Semoga Allah mudahkan kita dalam menjalaninya. (***)

Surya Yuniza
Ketua DPW Partai Gelora Kalimantan Utara

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement








More in Covid-19