Connect with us

Olahraga

Ini Alasan Asosiasi PSSI Kaltara Gunakan PS Persemal Berlaga Piala Soeratin 2020

Ketua Asosiasi Provinsi PSSI Kaltara, Hendra Radyanto bersama Sekretarisnya Ibnu Daud. (Ft. Dok Newstara)

Newstara.com TARAKAN – Ketua Asosiasi Provinsi PSSI Kaltara, Hendra Radyanto menegaskan bahwa kejuaraan Piala Soeratin 2020 di Kota Malang, Jawa Timur pada awal bulan Februari 2020 lalu, tidak terlepas dari persoalan dana keberangkatan, karena hingga waktu yang ditentukan PS Nunukan belum dapat memberikan jawaban pasti. Sehingga, pihaknya berinisiatif untuk tetap ada perwakilan dari Kaltara serta pihak penyelenggara tidak memberikan penalti atau sanksi.

“Sekarang kita disuruh segera berangkat tapi ada ndak uang kan saya sebagai Asprov PSSI harus cepat mengambil keputusan, kisaran untuk membawa tim dari Nunukan misalnya atau Malinau paling tidak kita akan membutuhkan anggaran dana Rp 300 hingga Rp 400 juta, dan ini harus dana berasal dari club sendiri baik dari sponsor atau dana pribadi misalkan,” ucap Hendra kepada Newstara.com pada Jumat sore, (14/02/2020) di Tarakan.

“Dalam waktu yang singkat sementara ada tawaran dari club berbeda dari daerah lain yang ingin menggunakan nama PS Persemal Malinau. Dimana rata-rata pemainnya adalah pemain bayaran dari luar, tapi salah satu persyaratan mereka tidak ingin mengambil pemain lokal karena mereka berlaga ingin menjadi pemenang, maka demi keberlangsungan nama perwakilan Kaltara di ajang Soeratin 2020, maka saya memberikan rekomendasi,” tambahnya

Kami memberikan kebebasan kepada club untuk segera mencari sponsor, founding atau siapa pun pemilik sahamnya agar segera membiayai keberangkatan ke pertandingan Soeratin 2020, namun jika club tersebut lolos ke babak puluhan besar pun akan menghabiskan anggaran hingga miliaran rupiah.

“Sebenarnya kita merasa di untungkan karena mereka membawa nama baik Kaltara, kita tidak rugi juga. Seandainya club itu masuk babak besar maka akan ada karantina pemain, dan itu club lagi yang bayar operasionalnya bisa mencapai miliaran anggaran yang dihasbiskan untuk kesana, baik biaya karantina, makan tempat tinggal, tempat latihan dan lainnya, sekarang apakah club berani membayar sebanyak itu,” ucapnya.

Hendra mengatakan saat ini saja uang iuran Asprov PSSI Kaltara sebesar Rp 10 juta pertahunnya tersendat-sendat dibayar oleh Club Sepak Bola di Kaltara. Sehingga, untuk menyelenggaran pertandingan bola se Provinsi Kaltara tetap harus membutuhkan anggaran dari pihak-pihak luar karena dana yang tidak mencukupi dari iuran club bola di Tarakan.

“Sepak bola di Kaltara sedang lesu, ini sekaligus sebagai pelajaran juga bagi kita bahwa sepak bola kita nih lesu ya kan terus mohon maaf masih pola pemikiran kalau ada yang mewakili dari club lain mereka nggak mau, padahal di Indonesia ini sudah biasa, dari pada mereka harus minta nggaran ke KONI, Bupati atau Gubernur, lalu saat Pemerintah tidak membantu terjadilah protes, kalau pun dibantu lalu pulang dengan kekalahan karena mengikuti putaran nasional maka ini tidak gampang, mereka memiliki pelatih asing yang hebat-hebat,” ucap Hendra.

“Ini saya sarankan bagi club-club bola di Tarakan, carilah sponsor atau funding jual saham kalian kepadanya, sehingga pertandingan di manapun bisa di ikuti dan bisa juga membayar pelatih dan bila perlu kita membuat lapangan untuk latihan sendiri, dan kami Asprov PSSI tentu akan mendukung 100 persen akan hal itu,” tutup Hendra.

Reporter: Aldi S

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

More in Olahraga