Connect with us

Hukum

Kaltara Siap-siap, FM Follow Up Laporan Kasus Korupsi di Tipikor Dan Bareskrim

Ketua Investigasi Lembaga Nasional Anti Korupsi Republik Indonesia (LNAKRI) Povinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Fajar Mentari. (Ft Dok)

Newstara.com JAKARTA – Ketua Investigasi Lembaga Nasional Anti Korupsi Republik Indonesia (LNAKRI) Povinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Fajar Mentari hari ini berencana menindak lanjuti laporannya ke Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipidkor) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri atas beberapa kasus dugaan korupsi yang melibatkan sejumlah kepala daerah di Kaltara.

“Berdasarkan penelusuran tim pemburu fakta kami, selain Pemprov Kaltara, ternyata ada beberapa pemerintah daerah yang juga terindikasi sejumlah kasus korupsi di daerahnya yang belum bisa saya sebutkan daerah mana saja,” ucap FM.

“Tim kami terus berupaya memberikan yang terbaik untuk masyarakat Kaltara, kami akan bekerja keras mengungkap apa yang terjadi, jadi proses atas temuan-temuan kami belum selesai sampai hari ini saja, dan kemungkinan masih bisa berkembang,” sambungnya.

FM mengatakan pemerintahan di Kaltara harus bersih dari para pejabat-pejabat korup, sehingga jika ada temuan maka akan segera diproses agar dapat menyelamatkan uang negara tersebut.

“Saya tidak ingin berandai-andai apakah ada orang lain yang jadi tersangka, itu sangat mungkin karena proses masih berjalan,” ucapnya.

FM mengatakan dirinya bakal mencermati seluruh aliran duit dalam kasus tersebut. Menurut FM, hal itu dilakukan untuk mengetahui apakah ada pihak lain yang menerima aliran uang dalam kasus korupsi itu.

“Terkait apakah ada pihak lain yang menerima, akan kami kaji lebih dalam, kami akan lihat dulu dari bagaimana aliran uang pada pihak yang melakukan transaksi haram tersebut. Kami akan meneliti lebih jauh keterlibatan pihak lain,” ujarnya.

FM menyebutkan ada beberapa pihak yang akan ikut terlibat dan sedang berproses pendataan, melalui proses penyelidikan yang panjang sehingga memperkuat alat bukti yang cukup untuk suatu perkara.

Secara umum, korupsi cenderung berada disekitar pemerintahan dan cenderung seperti bola salju, setelah bergulir maka akan terus membesar. Namun, sebagian besar masyarakat melihat sebuah kasus korupsi seperti menonton infotainment.

“Kita merasa tidak terdampak langsung, ini kebiasaan lama yang sulit dirubah, itu terjadi karena korupsi dan ketamakan dianggap hal yang biasa-biasa saja,” ucapnya.

“Titik bahaya dari korupsi tak cuma dilihat dari persentase kebocoran uang, tapi juga dari menipisnya kepercayaan kepada bersihnya aparatur negara secara keseluruhan. Struktur kekuasaan wajib dibenahi, menutup jalan bagi budaya korupsi, tutur FM yang juga sekaligus Ketua Lembaga Nasional Pemantau dan Pemberdayaan Aset Negara (LNPPAN) Provinsi Kaltara.

Reporter: Mufreni

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement





More in Hukum