Connect with us

Peristiwa

Limbah Udang di TPA Aki Babu, Warga Takut Kena Virus Corona

Limbah Udang dibuang ke TPA Aki Babu Tarakan. (Ft. Dok Warga)

Newstara.com TARAKAN – Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Aki Babu Kota Tarakan adalah tempat pembuangan sampah umum dari berbagai jenis sampah organik dan non-organik dari masyarakat Tarakan. Namun, diperkirakan dalam tiga minggu terakhir ini ada perusahaan industri yang membuang limbahnya berupa kulit dan kepala udang. Alhasil, warga disekitar TPA pun risih dengan bau menyengat dari limbah udang itu dan parahnya lagi, mereka takut tertular penyakit Virus Corona yang menyebabkan kematian.

Salah satu warga Aco menuturkan belakangan ini dirinya mencium aroma yang tidak sedap seperti bau khas bangkai. Dimana awalnya, dirinya tidak mengetahui dari mana berasal dan setelah ditelusuri ternyata bersumber dari mobil pick up berwarna hitam dan truk kuning yang membuang limbah udangnya ke TPA Aki Babu dan melewati ruas jalan protokol seperti Jalan Mulawarman, Jalan Aki Balak dan Jalan Aki Babu lalu berakhir di TPA.

“Saya tidak tahu darimana sumber utamanya, yang saya tahu bau busuk itu dibawa mobil pick up berwarna hitam dan truk kuning, sepertinya lewat Mulawarman dan arahnya kesini ke TPA, dan setelah kita lihat iya benar mereka membuangnya ke TPA Aki Babu, saya tidak tahu aturannya boleh atau tidak, cuma baunya sangat menyengat, warga disini khawatir terkena Virus Corona, mungkin instansi terkait bisa menjelaskannya,” ucap Aco kepada Newstara.com pada Kamis malam, (05/03/2020) di Tarakan.

Aco mengatakan bau yang menyengat sangat mengganggu kenyamanan umum, terlebih lagi jalan yang dilalui mobil pengangkut itu melewati warung-warung makan. Karena jadwal pembuangannya tidak tertib, biasanya mereka lewat pada siang, sore dan malam hari apalagi saat ini orang-orang mengkhawatirkan adanya Virus Corona, yang membuat masyarakat selalu waspada dan menjaga kebersihan.

“Sebenarnya yang saya lihat dan baca di berita-berita penyebab Virus Corona bukan limbah Udang itu, tapi warga disini tetap khawatir efek Virus Corona dan kita tetap menjaga-jaga saja, apalagi baunya menyengat dan harus kami akui banyak warga yang takut,” ujarnya.

Sementara, Fajar Mentari (FM) Pengamat Sosial Media dan Politik yang tinggal di Jalan Aki Babu mengatakan sebaiknya jenis sampah limbah organik dari perusahaan industri terpisah dengan pembuangan sampah umum. Karena akan menimbulkan persepsi warga yang berbeda, apalagi warga khawatir dengan penyebaran Virus Corona. Selain itu, Dinas Kesehatan Kota Tarakan sebaiknya juga memberikan pemahaman kepada masyarakat dan intens apa-apa saja penyebab terjadinya Virus Corona dan cara mencegah dan mengatasinya seperti apa.

“Dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk limbah udang, selain busuknya yang sangat menyengat, juga akan jadi kerumunan belatung. Ini pencemaran lingkungan yang menimbulkan polusi udara yang tidak sehat dan menambah penyebaran bakteri. Dinas terkait harus memberikan penjelasan, apakah ini boleh atau tidak, demi menjaga Tarakan tetap kondusif dan bebas dari penularan penyakit,” tuturnya.

“Saya sempat berpapasan saat pulang dengan mobil bak pengangkut limbah udang ini, dan harus saya akui hampir tertabrak karena tidak tahan dengan bau nya dan berusaha untuk mengebut dan mendahului kendaraan bak itu, saya juga pernah mendengar ada pengendara motor ibu-ibu yang tiba-tiba muntah mencium aroma limbah udang ini,” ucap FM.

“Setahu saya ada badan yang khusus bertanggung jawab mengurusi limbah udang, jadi tidak buang sembarangan di TPA. Pihak-pihak terkait untuk dipanggil dan dimintai keterangannya serta pertanggung jawabannya, intinya apakah boleh atau tidak hal itu,” tutupnya.

Sekedar informasi, biasanya Limbah Udang tidak dibuang secara bebas karena masih memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dan biasanya pula, perusahaan pengolahan terasi menjadikan sisa-sisa kulit dan kepala udang, sebagai bahan utama pembuatan terasi udang yang enak dan gurih.

Reporter: Aldi Silimbong

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

More in Peristiwa